Lelah

Pemandangan masjid sore ini nampak ramai seperti biasanya. Adanya kajian kitab rutinan menjadi daya tarik terbesar hadirnya jamaah yang datang hari-hari ini. Hadirnya Syekh dari Yaman sebagai pemateri kajian menjadi telaga bagi para pembelajar yang haus akan ilmu keislaman dan charger keimanan. Aku sendiri datang bersama seorang kawan dari tempat tinggalku di daerah distrik Mujahidin. sebuah komplek yang masih satu komplek dengan masjid yang kita datangi.

Selepas sholat maghrib, kajian kitab itu dimulai. Syekh yang membawakan materi fiqih syafii ini mulai menerangkan dan menjelaskan kepada kami semua tentang intisari dari kitab safinatunnajah karangan Imam Salim ibnu Samir Al Hadromi -rahimahullahu- dengan sangat luwes dan jelas. Ditengah penjelasan kajian, tiba-tiba beliau berhenti, sejenak memperhatikan sekelilingnya dari kiri ke kanan, berputar menunduk lalu diam. Aku yang sedari tadi sibuk memperhatikannya bingung dengan apa yang sedang beliau lakukan. Apakah beliau baik-baik saja? Kataku dalam hati.

Tiba-tiba Syekh kembali mendongakkan wajahnya seperti semula. Sambil menatap beliau berkata.

“Ya Ikhwah, sebetulnya hari ini cukup melelahkan bagi saya.” Sembari tersenyum beliau melanjutkan.

“Hari ini saya sudah sibuk dengan beberapa kegiatan diluar sana dan itu cukup melelahkan. Sejenak saya berfikir untuk meliburkan kajian ini saja begitu. Namun, tiba-tiba saya teringat sebuah nasehat yang disampaikan kepada saya beberapa tahun silam. Sebuah nasehat yang akan selalu saya ingat sampai kapanpun. Apakah kalian ingin tahu apa nasehat yang Syekh saya berikan kepada saya?” tanya Syekh.

“Iya ya Syekh,” jawab kami serempak.

“Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullahu- pernah ditanya: “Wahai Imam, kapankah waktu istirahat itu?” Beliau menjawab: “(Istirahat yang sesungguhnya ialah) Pada saat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.” Senyum Syekh menyampaikan.

📸: unsplash 

#30hbc2103
#30haribercerita

Komentar

Postingan Populer